Skip to main content

Hippotherapy : Interaksi anak autis dengan kuda



PKM Tampy Keluh




                Pernahkah anda bersosialisasi dengan anak autis? Mungkin anda akan merasakan kesulitan dalam berkomunikasi dengan mereka, atau bahkan anda merasa jengkel dengan meraka? Tentunya kita sudah mengetahui bahwa penderita autis memang memiliki keterbatasan dalam hal berkomunikasi, baik seacara verbal maupun non verbal. Namun, tetap saja mereka adalah manusia yang sempurna diciptakan oleh Tuhan dan memiliki hak untuk hidup berdampingngan dengan manusia yang lainnya.
Autis disebabkan oleh kelainan genetik sejak lahir. Sehingga, penderita autis tidak bisa diobati dengan menggunakan operasi fisik atau menggunakan obat-obatan. Beberapa orang mungkin bertanya, “dapatkah penderita autis sembuh?” jawabannya tentu saja bisa! Namun, sembuh yang bertanda petik (“sembuh”) bukan sembuh layaknya seseorang yang menderita tumor pasca operasi. Penyembuhan penderita autis lebih banyak melalui terapi-terapi yang konsisten. Banyak sekali terapi yang telah dikembangkan di dunia ini untuk penderita autis, salahsatunya adalah Hippotherapy. Hippotherapy merupakan terapi bagi penderita autis dengan menggunakan kuda sebagai alat terapinya.
Melalui program yang diselengarakan oleh DIKTI yaitu Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM), 5 mahasiswa fakultas peternakan membuat sebuah program pemberdayaan masyarakat dengan objek penderita autisme yang ada di Yogyakarta. Ide untuk membuat program tersebut dilatarbelakangi oleh semakin tingginya angka penderita autis di Yogyakarta yang tidak diimbangi dengan jumlah sekolah khusus autis yang ada. Sehingga, perlu ada wadah alternatif yang mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi di dalam masyarakat.
Hippotherapy yang dilaksanakan di kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan diikuti oleh 6 anak penderita autis dari Sekolah Autis Fajar Nugraha. Kegiatan ini dilaksanakan selama 8 minggu setiap hari kamis. Kemajuan yang signifikan sangat terlihat dari tiap peserta pada program ini. Perubahan sikap peserta yang semula takut terhadap hewan, secara berangsur-angsur menjadi senang melihat hewan. Semoga dengan terus diadakannya terapi ini, minimal peserta dapat lebih berani lagi untuk berkomunikasi dengan sesama.

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Nyata: Kamar Itu yang Remang-Remang

Kalau di rumah, Ibu pernah bilang bahwa adalah pantangan laki-laki tidur sehabis subuh. Nyatanya, saya sangat senang mematikan lampu kamar, rebahan di kasur dan bercengkrama dengan pikiran saya, "hari ini mau ngapain aja ya???" tentunya ditemani hawa dingin suasana subuh yang adem semiliwir karena jendela sudah dibuka. Juga Ayah saya selalu ndak suka anak laki-lakinya tidur setelah solat subuh, padahal habis begadang untuk nulis  (nonton film) dan belum sempat tidur, maka ketika Ayah sudah berangkat kerja pukul 07.00, saya pun lanjut untuk tidur HEHE Pun ketika sudah merantau dan ngekos, saya sering disindir oleh tetangga kos saya yang amat terhormat di kampusnya akibat baru keluar kamar ketika matahari sudah mulai panas, "Wuih hebat udah bangun nih jam 9." Padahal ya lampu kamar mati dan jendela tutupan bukan berarti yang di dalam tidur kan? Saya kan nyaman mikir di suasana sepi yang cuma ditemani detak jam dinding! Ilusi itu datangnya dari situ meeen, INSPIRESYE...

Cerita Buruk dan Cerita Baik di Akhir 2015

Cerita buruk : Tepat beberapa jam setelah saya membacakan lapora  pertanggungjawaban saya sebagai kepala departemen MIO KMFPT. Hasilnya, ditolak. Sungguh, terlalu banyak amanah yang salah tinggalkan di departemen. Sungguh naif kalau saya berpikiran bahwa ini hanya sebagai formalitas. Pelajaran yang sangat berharga bahwa jangan terlalu banyak becanda dan menyepelekan sesuatu. Karena dibalik itu semua ada konsekuensi yang anggap saja kita tidak tahu besar kecilnya. Untung kecil, kalau besar? Cerita baik : Sebenarnya saya tidak mau menceritakan ini sebagai suatu hal yang baik. Tetapi akan sangat menghinakan-Nya kalau saya melihat ini dari sudut pandang yang salah. Alhamdulillah, saya punya keluarga baru di fapet ugm. Gedung H3 lantai satu dan dua, akan menjadi saksi bisu suka dan duka yang akan kami alami. Sekali lagi saya bersyukur kepada Allah karena saya diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri bersama teman2 menjadi asisten laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Awaln...

Tantangan yang sebenernya

Tantangan yang berat dari perubahan yang sedang kita perjuangkan adalah sikap skeptik, komentar-komentar, dan celetukan negatif dari orang-orang di dekat kita yang belum menyadari perubahan yang kita lakukan, serta cenderung mengingat kebiasaan lama kita. Daan tantangan yang sebenarnya adalah sikap kita, lanjut berubah atau kembali ke kebiasaan lama.