Skip to main content

Ghoddul Bashar

Ada hal yg bisa kita pilih, ada pula hal yang tidak bisa kita pilih, contoh: terlahir menjadi laki-laki, di keluarga A.

Ada hal yang sebetulnya bisa kita pilih, tapi kita tidak memakai kewenangan itu, begitu juga sebaliknya, ada hal yang tidak bisa kita pilih, tapi kita mati-matian untuk mendapatkan hal tersebut. Sehingga, terkadang ada solusi atas permasalahan kita, justru kita tidak memilih pilihan tersebut.

Manusia berada di antara dua pilihan, pilihan yang harus diterima dan pilihan yang harus dilakukan.
24.An-Nūr : 60
Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Mengapa wanita sudah sepuh boleh menanggalkan pakaian luarnya (bukan berarti telanjang, misal: tidak memakai kerudung)?

Setiap hukum ada faktornya ('illad kalau saya tidak salah dengar).

Karena sudah sepuh, itu sudah tidak ada 'illad untuk menyebabkan hawa nafsu yang melihat, atau bisa dikatakan (maaf) tidak menarik lagi.

Kembali lagi ke ayat, tapi akan lebih baik juga tetap menutup aurat.

Mengapa manusia senang kepada hal-hal yang menarik? Begitu juga sebaliknya, mengapa manusia tidak senang kepada hal-hal yang tidak menarik baginya? Kemudian pertanyaan selanjutnya, rasa senang itu datangnya dari mana? Dan rasa senang itu pilihan atau bukan? Apakah kita bisa menolak datangnya rasa senang? Tentu tidak bisa kita tolak timbulnya rasa senang terhadap sesuatu yang menarik.

Kita tidak bisa memilih timbulnya rasa senang, karena itu datangnya dari Allah.

Lalu bagaiman kalau Allah memilihkan rasa senang terhadap sesuatu? Ya, kita harus terima dengan lapang dada. Namun, senang kepada segala yang menarik bukanlah pilihan kita, tapi apa yang kita lakukan terhadap yang kita senangi, sepenuhnya adalah pilihan kita.

Contoh: ada perempuan cantik, lalu timbullah senang. Kita memiliki pilihan, akan melihatnya terus atau tidak (menundukkan pandangan).

Lanjut, tidak suka kepada segala yang tidak menarik bukan pula pilihan kita, tapi apa yang kita lakukan terhadap apa yang tidak kita sukai menjadi sepenuhnya pilihan kita.
"Apakah yang kita lakukan untuk amal baik atau amal buruk?"
Contoh: Kalau kita dihina lalu kita tersinggung, itu bukan hal yang salah dan bukan pilihan kita. Yang menjadi pilihan kita adalah tindak lanjutnya, memaafkan atau membalas. Senang melihat wanita tertutup atau terbuka? 'Melihat' itu sudah termasuk action/amal. Mari nilai diri kita sendiri.

"Ghaddul bashar (GB)" (menundukkan pandangan), mudahkah? Pertanyaannya mengapa sulit? Kalau sulit, dimana letak sulitnya?

Harus betul-betul kita jabarkan jawabannya, karena ini suatu hal yang ringan tapi sangat susah untuk dilakukan. Jika betul seperti itu yang kita rasakan, tentunya ada indikasi masalah.

Janji yang menarik.



"GB adalah cermin keadaan iman seorang mukmin." Karena GB itu literally easy tapi susah dipraktekkan, betul?

GB juga buku kehidupan, kita bisa membaca iman kita dari situ.


Dirindui kebaikan, dibenci keburukan, ciri iman sedang naik. Iman naik bisa tiba-tiba berantakan, futur.

Futur secara bahasa berarti diam setelah bergerak, bisa juga, malas setelah bersungguh-sunguh.

Pernahkah kita merasa futur? Atau sering? Dan pernahkah kita berpikir tentang penyebabnya? Bisa jadi penyebabnya adalah GB.

Futur adalah keniscayaan hidup yang mengalir, membawa kita ke tempat yang kita kehendaki. Tempat itu bisa tempat yang buruk atau tempat yang baik dari futur. Kita hidup itu ada masa kosong (futur) tapi setelah itu kita yang menentukan, mau kemana kita?

Terdapat 3 macam futur, yaitu: istidraj, tadzkirah, dan fadhal.

Mari membaca kondisi futur kita.

Contoh: Kalau kita malas tahajud, kita ini sedang futur apa? Kalau kita sedang sakit panas, kita ini lagi sakit panas apa? Demam biasa, DB atau apa? Lalu kalau DB, minun obat biasa manfaatkah?

Mari diagnosa
Futur Istidraj merupakan futur yang berat.



"Takdzib" = pendustaan

Contoh: kalau kita lihat aurat, percaya gak kalau Allah melihat? Logikanya kita akan berhenti kan? Kalau kita ga berhenti berarti udah mulai ada unsur pendustaan (takdzib). Diagnosa pertama, ini sengaja melihat aurot. Kalau ga sengaja tidak masuk diagnosa pertama.

** Mohon maaf penjelasannya tidak menyeluruh, karena waktu itu sudah mepet magrib, sehingga kajian jadi dipersingkat.

Itu lah 4 diagnosanya. Jika ada keempatnya dalam diri seseorang maka dia positif dia kena futur istidraj. Maka,
68.Al-Qalam : 44
Maka serahkanlah kepada-Ku (urusannya) dan orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur'an). Kelak akan Kami hukum mereka berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui,
25 Desember 2017
Oleh: Ust. Syatori Abdurrauf
Masjid Nurul Ashri, Deresan, Sleman, Yogyakarta.

Comments

Popular posts from this blog

14 Februari

Opini Wisnu M.R.(Facebook Kmfpt Ugm, 14 Februari 2015) Liberalisme atau budaya bebas kini telah menyelinap dan merasuki setiap sendi kehidupan.Tak hanya merasuki sistem ekonomi, liberalisme kini terasa hingga aspek budaya.Pergeseran nilai-nilai dalam aspek budaya ini semakin membuatnya jauh dariislam. Salah satu budaya liberal yang sarat akan pergeseran nilai ini, akrab ditelingakita dengan nama hari kasih sayang atau valentine’sday . Hari kasih sayang yang sangatpopuler di kalangan remaja ini, dirayakan pada pertengahan februari tepatnya tanggal 14 februari. Euforia hari kasih sayang dimanfaatkan dengan sempurna oleh pelakubisnis sebagai sarana mempromosikan produknya. Hingar bingar media baik elektronik maupun cetak ikut memeriahkan hari yang dianggap sebagai hari pembuktian cinta ini.Kemeriahan ini sengaja dikemas sedemikian rupa, hingga tak terasa remaja-remajapun itu tercekoki oleh iklan-iklan valentine’sday . Atas dasar trend masa kini,dan agar tidak dikatakan ...

Cerita Buruk dan Cerita Baik di Akhir 2015

Cerita buruk : Tepat beberapa jam setelah saya membacakan lapora  pertanggungjawaban saya sebagai kepala departemen MIO KMFPT. Hasilnya, ditolak. Sungguh, terlalu banyak amanah yang salah tinggalkan di departemen. Sungguh naif kalau saya berpikiran bahwa ini hanya sebagai formalitas. Pelajaran yang sangat berharga bahwa jangan terlalu banyak becanda dan menyepelekan sesuatu. Karena dibalik itu semua ada konsekuensi yang anggap saja kita tidak tahu besar kecilnya. Untung kecil, kalau besar? Cerita baik : Sebenarnya saya tidak mau menceritakan ini sebagai suatu hal yang baik. Tetapi akan sangat menghinakan-Nya kalau saya melihat ini dari sudut pandang yang salah. Alhamdulillah, saya punya keluarga baru di fapet ugm. Gedung H3 lantai satu dan dua, akan menjadi saksi bisu suka dan duka yang akan kami alami. Sekali lagi saya bersyukur kepada Allah karena saya diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri bersama teman2 menjadi asisten laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Awaln...

Kuantitas atau Kualitas dulu?

Ketika saya sedang menulis, banyak sekali berkelebat ide-ide lain untuk kemudian saya ingin tuliskan. Tapi, hal itu terbentur dengan pertanyaan, "kapan nulisnya? Ini aja belum selesai." Suatu saat saya bertanya kepada diri sendiri, "untuk apa saya menulis? Menulis apapun yang penting banyak? Atau menulis sedikit yang penting berkualitas?" Di titik ini saya harus memilih mana yg membuat kemampuan intelektual saya meningkat. Tentunya ada kalimat idealis "menulis yang banyak dan berkualitas" tetapi itu tidak bisa terwujud jika tidak dibatasi oleh periode waktu. Maka, tidak perlu dipikir panjang lagi, saya kira jawabannya sudah jelas, untuk mencapai idealisme tersebut kuncinya adalah konsisten.