Skip to main content

Posts

Kuantitas atau Kualitas dulu?

Ketika saya sedang menulis, banyak sekali berkelebat ide-ide lain untuk kemudian saya ingin tuliskan. Tapi, hal itu terbentur dengan pertanyaan, "kapan nulisnya? Ini aja belum selesai." Suatu saat saya bertanya kepada diri sendiri, "untuk apa saya menulis? Menulis apapun yang penting banyak? Atau menulis sedikit yang penting berkualitas?" Di titik ini saya harus memilih mana yg membuat kemampuan intelektual saya meningkat. Tentunya ada kalimat idealis "menulis yang banyak dan berkualitas" tetapi itu tidak bisa terwujud jika tidak dibatasi oleh periode waktu. Maka, tidak perlu dipikir panjang lagi, saya kira jawabannya sudah jelas, untuk mencapai idealisme tersebut kuncinya adalah konsisten. 

Iri

Jadi, baru saja teman saya diterima kerja di salah satu perusahaan penyedia jasa angkutan online. Gajinya diatas 4jt dengan waktu kerja senin-jumat pukul 7 sampai lunch, fleksibel (bukan kantoran). Dan saya iri. Bukan iri yang mengundang untuk lebih produktif, it's be like "aduhhh pengen banget deh kayak gitu!" Atau "anjir hoki banget dih itu orang" setelah itu timbul kekhawatiran2 gak penting. Gilak, baru gitu doang. Gimana nnt kalau saya udah punya kerja terus temen2 ada yg lebih kaya, ada yang lebih prestatif. Nyatanya menerima konsep kekayaan vs kemapanan itu sulit banget. Kata orang, "There are people who rich and people who have money." Merasa amat terlambat karena prestasi orang lain, sedang kita masih gini. Bagi saya yang menjadi bahaya adalah timbulnya khawatir, jadi bikin ga fokus apa sama apa yang dikerja. Tidak tahu apa yang memang harus dan butuh untuk dikerjakan. Semua yang dikerjakan jadi terasa terburu2 (berkorelasi juga dengan mera...

Cerita Buruk dan Cerita Baik di Akhir 2015

Cerita buruk : Tepat beberapa jam setelah saya membacakan lapora  pertanggungjawaban saya sebagai kepala departemen MIO KMFPT. Hasilnya, ditolak. Sungguh, terlalu banyak amanah yang salah tinggalkan di departemen. Sungguh naif kalau saya berpikiran bahwa ini hanya sebagai formalitas. Pelajaran yang sangat berharga bahwa jangan terlalu banyak becanda dan menyepelekan sesuatu. Karena dibalik itu semua ada konsekuensi yang anggap saja kita tidak tahu besar kecilnya. Untung kecil, kalau besar? Cerita baik : Sebenarnya saya tidak mau menceritakan ini sebagai suatu hal yang baik. Tetapi akan sangat menghinakan-Nya kalau saya melihat ini dari sudut pandang yang salah. Alhamdulillah, saya punya keluarga baru di fapet ugm. Gedung H3 lantai satu dan dua, akan menjadi saksi bisu suka dan duka yang akan kami alami. Sekali lagi saya bersyukur kepada Allah karena saya diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri bersama teman2 menjadi asisten laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. Awaln...

ini dan itu

Iri dengan pencapaian orang lain memang hal wajar. Kita mungkin berpikir "ingin seperti ini ingin seperti itu." namun, kita harus memiliki sesuatu yang pantas untuk mendapat ini atau itu. sesuatu yang pantas itu adalah usaha yang penuh. Orang-orang bisa mendapatkan ini atau itu bahkan ini dan itu, karena mereka merelakan ratusan malam sepinya untuk mencapai itu. Mudahnya, gak setengah-setengah....

Entahlah

Buka-buka fesbuk, liat foto dan status teman. Mulai dari temen SD sampai kuliah ada semua dengan segala keriuhannya. Ingat masa lalu sewaktu masih main bareng, waktu masih bocah. Dan sekarang meraka sudah memiliki pencapaiannya masing-masing, udah ada yang menang lomba ini itu, ada yang udah kerja, bahkan ngasih kerjaan orang. Terkadang, saya sendiri suka iri dengan teman-teman saya yang sudah punya pencapaian yang bisa dibilang diatas rata-rata. Dan dari situ muncul keinginan untuk bisa melakukan itu semua. "saya pengen seperti dia, dia dan dia." sampai akhirnya tidak ada yang dikerjakan. Lama berpikir dengan ada rasa iri di hati, maka timbul pertanyaan "bisa gak ya kayak gitu?". Semakin lama seperti itu semakin ciut nyali. Seperti masa depan ini begitu gelap bagi saya. Tapi jika dipikir dengan lapang dada... ya biasa saja. Setiap orang tentunya memiliki perannya masing-masing di dunia. Masa depan memang tidak pasti, tapi tidak gelap, dia hanya berkabut dan pe...

Stressful

"Ketiduran emang kesalahan.." kata seorang teman saya. Ya, ketiduran emang ngerusak jadwal (banget). Contohnya hari ini, deadline laporan bablas, kumpul rapat telat (gak efektif), sholat pun dirapel. Tapi yang paling bikin stress hari ini yaitu ngarep sama orang. Bener banget kata sayyidina Ali bin Abi Tholib, "Aku sudah merasakan semua kepahitan dalam hidup, namun yang paling pahit adalah berharap pada manusia." Capek! Terkadang terbersit kapan islam ini mau jaya kalau punggawa-punggawa yang (katanya) berkompeten di bidangnya (baca: kepala divisi LDF) untuk masalah datang kumpul aja susah banget. Jangankan datang tepat waktu, ngingkarin janji aja udah kayak membalikkan telapak tangan. Padahal kata "iya, bisa, insyaAllah" itu kata yang sakral, jika sebelum kata itu adalah sebuah kalimat pertanyaan. Kok bisa-bisanya pagi hari bilang "iya, nanti datang" eh pas jadwalnya malah izin tanpa uzur yang jelas, Waduuuhh.... selevel kepala divisi lhoo... ...

Hippotherapy : Interaksi anak autis dengan kuda

PKM Tampy Keluh                 Pernahkah anda bersosialisasi dengan anak autis? Mungkin anda akan merasakan kesulitan dalam berkomunikasi dengan mereka, atau bahkan anda merasa jengkel dengan meraka? Tentunya kita sudah mengetahui bahwa penderita autis memang memiliki keterbatasan dalam hal berkomunikasi, baik seacara verbal maupun non verbal. Namun, tetap saja mereka adalah manusia yang sempurna diciptakan oleh Tuhan dan memiliki hak untuk hidup berdampingngan dengan manusia yang lainnya. Autis disebabkan oleh kelainan genetik sejak lahir. Sehingga, penderita autis tidak bisa diobati dengan menggunakan operasi fisik atau menggunakan obat-obatan. Beberapa orang mungkin bertanya, “dapatkah penderita autis sembuh?” jawabannya tentu saja bisa! Namun, sembuh yang bertanda petik (“sembuh”) bukan sembuh layaknya seseorang yang menderita tumor pasca operasi. Penyembuhan penderita autis lebih banyak me...